RSS

ORARI


logo ORARIORARI singkatan dari Organesasi Amatir Radio Indonesia, merupakan wadah tunggal untuk Amatir Radio di Indonesia. Berdiri pada tgl. 9 Juli 1968 berdasarkan PP No. 21 tahun 1967. Yang dimaksud dengan Amatir Radio adalah seorang yang mempunyai hobby Elektronika Radio dan Telekomunikasi.

ORARI juga merupakan bagian dari IARU singkatan dari International Amatir Radio Union, yaitu  wadah para Amatir Radio seluruh dunia yang tunduk dengan Radio  Regulation yang dikeluarkan oleh International Telecommunication Union (ITU).

ORARI sebagai organesasi hobby mempunyai tiga tingkatan kepengurusan, Tingkat pertama secara nasional diselenggarakan Oleh ORARI PUSAT. Tingkat kedua atau daerah yang biasanya mengikuti wilayah provinsi diselenggarakan oleh ORARI DAERAH. Kemudian tingkat ketiga disebut tingkat Lokal diselenggarakan oleh ORARI LOKAL, biasanya wilayahnya meliputi beberapa kecamatan disuatu kabupaten atau kota. Sehingga untuk kabupaten atau kota yang penduduknya padat mempunyai beberapa kepengurusan ORARI Lokal.

Untuk menjadi anggota ORARI seseorang harus telah lulus ujian amatir radio yang diselenggarakan oleh negara. Ada beberapa tingkatan dalam keanggotaan ORARI, tingkat pemula, tingkat Siaga, Tingkat Penggalang dan Tingkat Penegak. Jika seseorang berminat untuk menjadi anggota ORARI, pertama yang bersangkutan mendaftarkan ke Sekretariat ORARI Lokal yang ada didaerahnya, kemudian pengurus lokal akan memproses dan memberikan bimbingan untuk bisa mengikuti ujian. Setelah dinyatakan lulus oleh negara, kemudian melakukan daftar ulang untuk mendapatkan kartu Anggota yang dikeluarkan Oleh ORARI PUSAT dan Izin Amatir Radio (IAR) yang dikeluarkan oleh negara. Apakah anda berminat ?

(de YG1GTP)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2013 in Hobby

 

RANGKAIAN FORWARD / REVERSE PADA MOTOR 3 PHASA


Gerakan Foward/Reverse banyak dijumpai pada mesin-mesin industri. Prinsip utama dalam membalikan putaran motor dengan menukar posisi sambungan 2 phase. Berikut ini contoh rangkaian Foward/Reverse untuk sistem rangkaian DOL (Gambar 1) dan sistem rangkaian Star/Y- Delta/Δ (Gambar 2).

Featured image

Pada gambar 1,
adalah diagram listrik Foward/Reverse untuk Rangkaian DOL, Komponen utama untuk membalikan dilakukan oleh Kontaktor KF dan KR. Untuk menjalankan tekan tombol PbF untuk menjalankan Motor pada arah Foward dan/atau  tombol PbR untuk menjalankan motor pada arah Reverse (arah sebaliknya), sedang untuk menghentikan motor dengan menekan tombol PbStop. Yang penting pada rangkaian kontrol adalah kontak point NormalyClose (NC), Perhatikan rangkaian posisi NC-KF dan NC-KR di baris 7, yang berfungsi sebagai pengunci (InterLock), agar sistem ini aman pada saat perintah melakukan bolak balik putaran.

Bagaimana cara menjalankan motor supaya bisa bolak balik arah ?
Pada kondisi STOP seluruh komponen pada kondisi normal, untuk menjalankan motor kearah foward dengan menekan tombol PbF. Pada saat tombol PbF ditekan maka KF menjadi aktif dan membuat motor berputar kearah Forward. Pada kondisi ini jika diinginkan motor berputar kearah sebaliknya tidak bisa langsung menekan tombol PbR karena NC-KF pada gambar-1 baris 7 berubah menjadi Open sehingga PbR menjadi tidak aktif. Maka untuk mengaktifkan PbR harus menekan dulu tombol PbStop supaya KF tidak aktif dan Motor stop. Pada kondisi ini NC-KF akan kembali normal pada posisi Close, sehingga PbR menjadi aktif dan jika ditekan akan membuat KR aktif sehingga motor berputar kearah Reverse. Jika diinginkan lagi putaran menjadi Forward maka harus menekan tombol PbStop kemudian baru PbF.

Kenapa motor harus stop dulu sebelum dijalankan pada arah putar sebaliknya ?
Jika motor dibalik putarannya secara sepontan maka akan mengakibatkan terjadi arus listrik yang sangat tinggi yang bisa mengakibatkan sistem menjadi Trip dan bisa merusak motor atau peralatan lainnya yang digerakan oleh motor tersebut. Sehingga sistem minmal untuk membuata putaran Foward-Reverse seperti diagram listrik pada gambar 1.

Featured image

Pada Gambar 2,
adalah diagram listrik Forward/Reverse untuk Rangkaian Star-Delta, cara kerja sama saja dengan Rangkaian DOL. Yaitu dengan menekan tombol PbF atau Pbr untuk menjalankan motor sesuai dengan arah yang diinginkan dan menekan tombol PbStop untuk memberhentikan. Tatacara membalik putaran sama dengan menekan tombol PbStop sebelum memberikan perintah pada arah sebaliknya.

Terima kasih telah berkenan membaca tulisan ini semoga bermanfaat dan mohon kritik untuk lebih memajukan kemampuan kita semua.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2015 in ELEKTRIK

 

Membuat Rangkaian Listrik untuk Menjalankan Motor Induksi 3 phasa

Membuat Rangkaian Listrik untuk Menjalankan Motor Induksi 3 phasa

Untuk menjalankan Motor Induksi diperlukan rangkaian listrik sebagai pengontrol dengan tujuan agar :

  • Keamanan Operator terjaga,
  • Keamanan Motor terjaga,
  • Memudahkan start-Stop,
  • Memudahkan bolak-balik putaran.

Ada dua macam cara dasar untuk membuat rangkaian listrik dalam menjalankan motor induksi :

  1. Direct On Line (DOL), menyambungkan motor dengan saluran supley secara langsung, cara ini hanya cocok untuk motor dengan daya rendah,
  2. STAR-DELTA (Υ-Δ), menyambungkan motor dengan cara motor dirangkai dengan rangkai STAR terlebih dahulu baru kemudian dirubah menjadi rangkaian DELTA. Cara ini lebih cocok untuk motor dengan daya tinggi.

Selanjutnya lebih dalam kita bahas bagaiman cara merangkai kedua macam rangkaian tersebut.

RANGKAIAN DIRECT ON LINE (DOL), rangkaian ini banyak digunakan pada motor induksi dengan daya rendah, karena pada saat start ON bisa terjadi lonjakan arus yang cukup tinggi, bisa sampai puluhan kali arus kerja normal meskipun hanya sesaat. Rangkaian DOL ini dalam penggunaan yang memenuhi standar keamanan, berikut diagram listrik yang menunjukan susunan rangkaian DOL.

Featured image

Komponen utama dalam rangkaian tersebut :

  1. Autobreaker (F)
  2. Kontaktor (K)
  3. Thermis (Th)
  4. Phus Butom (PB)
  5. Kabel (Kb)
  6. Terminal (T)

CARA KERJA RANGKAIAN DOL,

  1. Hidupkan Autobreaker (F) untuk memberikan supley keapa selurah rangkaian kontrol DOL,
  2. Dengan menekan tombol PB Run membuat coil Kontaktor (K) mendapatkan supley sehingga Kontaktor (K) menjadi ON dan memberikan supley listrik pada Motor.
  3. Dengan adanya kontak point K maka supley pada motor bisa terus dipertahankan meskipun PB Run tidak ditekan lagi.
  4. Untuk mematikan tekan tombol PB Stop, sehingga aliran listrik pada Coil Kontaktor akan terputus dan membuat Kontaktor tidak aktif sehingga aliran listrik dari jaringan ke Motor terputus dan motor berhenti dan untuk menjalankan lagi tinggal ditekan lagi PB Run.
  5. Jika terjadi ‘OverCurrent’, Thermis (Th) akan aktif, maka kontak point NormalyClose (NC) Th akan aktif sehingga proses seperti pada saat PB Stop ditekan akan terjadi tetapi untuk menjalankan lagi Thermis (Th) harus di-reset terlebih dahulu dan kemudian PB Run ditekan.

Cara menentukan Nilai komponen yang digunakan disesuaikan dengan daya motor yang dipasang. Dengan menggunakan persamaan berikut ini untuk menentukan nilai komponen pada Rangkaian DOL,

      P = I x V x √3   ⇔  I = P / (V x √3) – – – (Persamaan-1)

P = Daya Motor dalam KW (kilo watt)

I = Arus listrik dalam Amper (A)

V = Tegangan Motor dalam Volt (V)

Untuk membuat rangkaian aman, maka kita gunakan Persamaan-1 untuk menentukan besar arus yang akan mengalir pada rangkaian tersebut. Selanjutnya semua komponen yang terpasang ditentukan oleh besarnya arus dengan mengikuti kaidah-kaidah berikut ini :

Thermis ⇒ Th = I → nilai thermis sama dengan Arus sesuai hasil persamaan-1

Autobreaker (F)⇒ Th < F ≤ (1,5 x Th) → nilai Autobreaker tidak boleh dibawah Thermis dan diatas 1,5 Thermis

Kontaktor (K) ⇒ K > F → nilai kemampuan kontaktor harus diatas Autobreaker

Kabel (Kb) ⇒ Kb > K → Ukuran kabel yang digunakan harus mempunyai kemampuan menghantar arus lebih besar dari Kontaktor

Terminal (T) ⇒ T ≥ Kb → Ukuran kabel yang digunakan harus mempunyai kemampuan menghantar arus lebih besar dari Kontaktor

Contoh kasus, suatu motor induksi Daya 3 Kw dan Tegangan kerja motor 380V akan dikontrol oleh rangkaian DOL tentukan nilai komponen yang harus dipasang supaya rangkaian tersebut aman. selanjutnya kita gunakan Persamaan-1.

I = P / (V x √3) ⇔ I = 3000 / (380 x √3) ⇔ I = 4,5 A (amper)

Maka dapat ditentukan

Thermis = 4,5A; Autobreaker = 6A; Kontaktor = 10A; Kabel = 12A; Terminal = 12A;

cara lain untuk menentukan Arus (I) kerja sistem, bisa menggunakan data yang tertulis pada name plate motor tersebut.

RANGKAIAN STAR-DELTA (Y-Δ), rangkaian ini banyak digunakan untuk menjalankan motor dengan daya besar, pada dasarnya rangkaian Y-Δ ini bertujuan untuk mereduksi arus sesaat yang sangat besar pada saat start ON, dengan cara membagi dua tahap yaitu tahapan terangkai Y (STAR) dan selanjutnya tahapan terangkai Δ (DELTA). Pada saat terangkai Y impedansi motor menjadi tinggi sehingga pada saat di beri tegangan start ON tidak menimbulkan lonjakan arus sesaat yang tinggi, setelah motor berputar kemudian dalam jangka waktu tertentu dirubah menjadi terangkai Δ yang ipedansinya lebih rendah dan sesuai dengan tegangan kerja motor tersebut. Sebelum menerapkan rangkaian Y-Δ yang perlu diperhatikan yakin bahwa motor tersbut pada saat terangkai Δ adalah merupakan tegangan kerja yang sesuai dengan tegangan supley, data tersebut bisa terlihat pada name plate motor. Berikut ini diagram listrik untuk rangkaian Y-Δ

Featured image

CARA KERJA RANGKAIAN Star-Delta  (Y-Δ)

  1. Hidupkan Autobreaker (F), sehingga aliran listrik dari jaringan sudah siap masuk ke rangkaian (Y-Δ)
  2. Tekan tombol NO (NormalyClose) PB Run maka arus listrik akan membuat K1 dan Timer (Tm) aktif ON , aktifnya K1 membuat K3 menjadi aktif melalui kontak point NO K1 dan pada saat PB Run dilepas sistem terus ON karena adanya kontak point K1 yang mengunci. Dalam waktu yang bersamaan aktifnya K1 akan memberikan supley pada motor dan K3 membuat  konfigurasi sambungan Y (STAR).
  3. Dalam waktu yang bersamaan Timer (Tm) terus aktif sampai waktu yang ditentukan tercapai. Biasanya untuk keperluan rangkaian Y-Δ timer diSET pada (5 – 10) detik.
  4. Pada saat timer waktu sudah tercapai, maka kontak pointnya menjadi aktif dan akan mematikan K3 dan sekaligus menghidupkan K2. Sehingga konfigurasi sambungan motor menjadi Delta (Δ), selanjutnya motor terus berjalan dengan konfigurasi Δ
  5. Untuk mematikan sistem, dengan menekan tombol PB STOP maka akan memutuskan aliran listrik pada seluruh Kontaktor dan Timer.
  6. Demikian juga jika terjadi OverCurrent maka Thermis (Th) menjadi aktif dan kontak point NC akan berubah menjadi terbuka sehingga aliran supley ke K1, K2, K3 dat Tm terputus dan sistem berhenti. Untuk menjalankan lagi Thermis harus direset lebih dahulu.

Komponen utama penyusun rangkaian ini tidak berbeda dengan rangkaian DOL hanya jumlah komponen yang berbeda dan untuk rangkaian Y-Δ otomatis diperlukan tambahan timer. Penentuan nilai komponen menggunakan Persamaan-1 dan kaidah-kaidah berikut ini :

Thermis ⇒ Th = ½ I → nilai thermis sama dengan dari setengah Arus kerja sesuai hasil persamaan-1

Autobreaker (F)⇒ I < F ≤ (1,5 x I) → nilai Autobreaker tidak boleh dibawah ArusKerja (I) dan diatas 1,5 ArusKerja (I)

Kontaktor (K) ⇒ K> F → nilai kemampuan kontaktor K1, K2 dan K3 harus mempunyai kemampuan menghantar arus lebih tinggi dar Autobreaker

Kabel (Kb) ⇒ Kb > K → Ukuran kabel yang digunakan harus mempunyai kemampuan menghantar arus lebih besar dari Kontaktor

Terminal (T) ⇒ T ≥ Kb → Ukuran kabel yang digunakan harus mempunyai kemampuan menghantar arus lebih besar dari Kontaktor

Contoh untuk membuat rangkaian (Y-Δ) pada motor 30 KW dengan tegangan kerja konfigurasi Δ, maka dapat ditentukan nilai komponen yang diperlukan sebagai berikut :

I = P / (V x √3) ⇔ I = 30000 / (380 x √3) ⇔ I = 45 A (amper)

Maka dapat ditentukan

Thermis = (45/2) A = 22,5 A; Autobreaker = 70A; Kontaktor = 80A; Kabel = 100A; Terminal = 120A;

cara lain untuk menentukan Arus (I) kerja sistem, bisa menggunakan data yang tertulis pada name plate motor tersebut.

Semoga pembahasan sederhana ini ada manfaatnya untuk kemajuan kita semua.

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 25 April 2015 in ELEKTRIK

 

STAR DELTA pada MOTOR INDUKSI 3 PHASA

STAR DELTA pada MOTOR INDUKSI 3 PHASA

Gambar1 Untuk teman-teman teknisi pemula semoga pembahasan tentang sambungan STAR (Y) dan DELTA (Δ) pada motor induksi 3 phasa berikut ini ada manfaatnya. Sebelum kita menjalankan motor induksi 3 phasa, terlebih dahulu kita harus membuat sambungan STAR (Y) atau DELTA (Δ) sesuai dengan name plate motornya.

Apakah fungsi terminal pada motor ? Perhatikan gambar 1 dan gambar 2, yang menjelaskan terminal yang ada pada motor induksi 3 phasa, biasanya motor induksi 3 phase mempunyai terminal enam titik, pada gambar 1 setiap terminal diberi nama dengan urutan U1, V1, W1 pada deret pertama dan W2, U2, V2 pada deretan kedua. Ada juga yang memberikan simbul terminal dengan nama berbeda tapi susunan tetap sama, perhatikan gambar 2, deret pertama U, V, W dan deret kedua Z, X, Y, kenapa disusun sedemikian rupa ? supaya memudahkan untuk melakukan sambungan STAR Gambar2ataupun DELTA. Apa yang dimaksud pada simbul-simbul pada terminal tersebut ? Kalau kita ukur dengan OHM meter akan terjadi sambungan antara U1-U2, V1-V2, W1-W2 atau antara U-X, V-Y, W-Z dengan nilai Ohm yang hampir sama, Ini menunjukan Resistan dalam lilitan masingpmasing phasa. Untuk mengetahui baik tidaknya kondisi motor, perlu juga pengukuran antara phasa dengan phasa dan antara phasa dengan body, jika terjadi sambungan maka dipastikan kondisi motor tidak baik.

Bagaimana cara membuat sambungan STAR dan DELTA ?

Sambungan STAR disusun dengan menyambungkan terminal X, Y, Z ( atau U2, V2, W2) menjadi satu titik. Lihat Gambar 3, Gambar3 supley listrik 3 phasa diberikan melalui terminal U1 V1 W1. Biasanya sambungan STAR jika motor akan diberikan supley tegangan yang lebih tinggi. Sedangkan untuk mendapat untuk mendapatka motor dengan supley tegangan yang lebih rendah menggunakan sambungan DELTA (Δ), sambungan ini didapat dengan cara menyambungkan terminal U1-W2, V1-U2, W1-V2. Lihat Gambar 4, supley listrik di berikan pada ke tiga titik sambungan tersebut.STAR DELTA

Sebelum melakukan sambungan  STAR atau DELTA (Δ), perhatikan terlebih dahulu Name Plate motor tersebut. Misalnya jika suatu motor pada name plate tertulis Δ/220V, artinya bahwa pada tegangan supley 220VAC, 3 phasa motor tersebut harus disusun sambungan DELTA (Δ). Jika disusun dengan sambungan STAR(Y) maka tegangan yang sesuai adalah 380V.

Bagaimana cara menentukan tegangan kerja pada sambungan STAR (Y) dan sambungan DELTA (Δ) ? untuk menentukan tegangan kerja pada motor induksi 3 phasa, pertama pelajari name plate, biasanya tertulis tegangan kerjanya. Dan hubungan antara sambungan STAR (Y) dan sambungan DELTA (Δ) mengikuti Persamaan (Formula) berikut ini :

V(STAR) = V(DELTA) x √3 ; dimana : V(STAR) = Tegangan sambungan STAR dan V(DELTA) = Tegangan sambungan DELTA

misalnya jika pada name plate diketahui bahwa tegangan pada sambungan delta 380 Volt maka dengan persamaan diatas dapat kita ketahui tegangan sambungan STAR adalah :

V(STAR) = V(DELTA) x √3

               = 380 Volt x √3

               = 658,2 Volt

Berikut ini gambar-gambar yang berkaitan dengan sambungan STAR atau DELTA pada motor induksi 3 phasa.

        

NamePlate
 
69 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Juli 2013 in ELEKTRIK

 

5758 GTP45


Pembuatan, Perbaikan, Perawatan dan Pengadaan

SISTEM

Mekanik, Elektrik dan Elektronik

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Januari 2011 in WAJAH

 
 
Teknik Umum 57 58

" . . . . belajar terus untuk memperkaya kemampuan . . . . "

Ahmad Firdaus

Parenting, Investing, Programming

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.